Home Global Humaniora Wejangan Osama Sebagai Sang Ayah
Kamis, 16 Februari 2012 15:16

Wejangan Osama Sebagai Sang Ayah

Written by  Chairul Abshar
Rate this item
(0 votes)

JAKARTA — Tak peduli Barat melabelinya sebagai teroris, Osama bin Laden tetaplah seorang ayah. Ia bahkan memiliki nasihat yang begitu positif untuk puluhan buah hatinya.

Hal ini diungkap Zakaria Al Sadah, yang saudari perempuannya menjadi istri kelima Osama. Menurut Sadah, Osama selalu menasihati anak-anaknya untuk hidup dengan damai di Barat, sehingga bisa dapat pendidikan yang baik.

“Ia menasihat anak-anak dan cucunya agar pergi ke Eropa dan Amerika serta memperoleh pendidikan yang baik,” ujar Sadah, dalam wawancara dengan The Sunday Times. Menurut Sadah, Osama tak ingin keturunannya mengikuti jejaknya.

Apalagi, menurut Zakaria, anak-anaknya saat ini masih trauma dengan penggerebekan tim Navy SEAL Amerika Serikat (AS) pada awal Mei 2011 lalu, yang menewaskan Osama di rumahnya di Abbottabad, Pakistan.

Hingga saat ini, aparat Pakistan masih belum membebaskan tiga istri Osama dan sembilan anaknya yang mereka tahan dalam sebuah rumah yang dijaga dengan ketat, di Ibukota Pakistan, Islamabad.

Anak-anak ini ditemukan sedang bersembunyi di rumah Osama di Abbottabad. Sadah yang seorang jurnalis berusia 24 tahun menyatakan, anak-anak itu tak mau makan dan mereka belum melihat cahaya matahari selama sembilan bulan terakhir.

Salah satu anak Osama yang paling terpukul, menurut Sadah, adalah Safiyah (12). Ia memegang kepala ibunya yang cedera saat penggerebekan berlangsung. Istri Osama yang saudari Sadah, Amal (29) dan dua istri lainnya mogok makan karena ditahan.

Sadah yang khawatir Amal bakal dihukum karena dianggap mengkhianati negara, mengira aparat akan memberinya izin untuk membawa anak-anak Osama pulang ke Yaman, negara asal kakak beradik ini.

Namun, aparat Pakistan meyakini seluruh anggota keluarga Osama kemungkinan besar menyembunyikan informasi. Hingga saat ini, aparat Pakistan belum mau melepaskan anak-istri Osama maupun menyerahkan paspor mereka.

Sadah amat kecewa, karena anak-anak yang begitu dicintai Osama ini menyaksikan ayah mereka terbunuh. Menurutnya, sebagai anak-anak, mereka membutuhkan lingkungan penuh kasih sayang dan bukan penjara.

“Siapapun ayah mereka, anak-anak ini tak pernah punya hidup yang normal. Mereka tak melihat matahari ataupun berlarian di taman. Sedih rasanya melihat anak-anak ini,” ujar Sadah.

Tak satupun dari mereka yang didakwa melakukan tindak kriminal, setidaknya belum. Amal, istri termuda, tertembak di kakinya oleh tim Navy SEAL karena berusaha melindungi sang suami.

Beberapa tahun lalu, ia pernah diberi kesempatan untuk bercerai dari Osama. Namun ia memilih tetap bersama suami, sebagai bentuk jihad pribadinya. Alasan Amal, ia ingin menjadi bagian dari sejarah.

Ia tinggal di rumah Abbottabad bersama dua istri sebelumnya, Khairiah Sabar, seorang psikolog anak dan Siham Sabar, guru bahasa Arab. Setiap istri dan anak-anaknya, menghuni satu lantai dan Osama bergantian bersama mereka.

Khairiah yang dijuluki ibu spiritual rumah tangga Osama, diam-diam kembali ke Pakistan, setelah sempat kabur ke Iran dan Arab Saudi. Siham sempat lari ke Afghanistan beberapa tahun, hingga dipanggil Osama untuk kembali.

Dalam hukum Islam, seorang pria boleh memiliki maksimal empat istri pada saat bersamaan. Osama menikah enam kali, tapi menceraikan istri keduanya pada 1990-an dan menganulir pernikahan kelima dalam waktu 48 jam.  [int]

Leave a comment

(*)wajib disi.


Kirim Berita, Artikel dan Opini