Seorang balien (dukun) dari suku Dayak Kenyah mengenakan pakaian tradisional melakukan tarian perang lengkap dengan senjata mandau dan perisai dalam acara musyawarah para kepala adat Dayak Kenyah di Malinau, Kalimantan Timur. Rapat membahas pelestarian budaya Kenyah terkait banyaknya anggota suku yang telah bekerja di negara lain, Asia Tenggara. Seru dan meriah, itulah yang Anda dapatkan bila berkunjung ke perkampungan Suku Dayak Kenyah, Kaltim. Anda dapat menyaksikan langsung ragam budayanya, menari bersama, dan berfoto menggunakan atribut suku sambil menikmati alunan musik khas Suku Dayak Kenyah. Gambar diambil Rabu (16/5/2012) lalu.
Dua orang balien (dukun) dari suku Dayak Kenyah, mengenakan pakaian tradisional yang disebut Sapei sapaq berbentuk rompi, dan bawahannya cawat yang disebut abet kaboq, saling berhadapan lengkap dengan senjata mandau dan perisai melakukan tarian perang dalam acara musyawarah para kepala adat Dayak Kenyah di Malinau, Kalimantan Timur. Rapat membahas pelestarian budaya Kenyah terkait banyaknya anggota suku yang telah bekerja di negara lain, Asia Tenggara. Seru dan meriah, itulah yang Anda dapatkan bila berkunjung ke perkampungan Suku Dayak Kenyah, Kaltim. Anda dapat menyaksikan langsung ragam budayanya, menari bersama, dan berfoto menggunakan atribut suku sambil menikmati alunan musik khas Suku Dayak Kenyah. Gambar diambil Rabu (16/5/2012) lalu.
Sejumlah perempuan suku Dayak Kenyah, mengenakan pakaian tradisional menari di sela acara musyawarah para kepala adat Dayak Kenyah di Malinau, Kalimantan Timur. Rapat membahas pelestarian budaya Kenyah terkait banyaknya anggota suku yang telah bekerja di negara lain, Asia Tenggara. Tarian menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan saat berkunjung ke suatu daerah. Mengikuti alunan musik khas daerah tersebut dan ikut menari bersama masyarakatnya menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Pengalaman menarik ini akan Anda dapatkan bila berkunjung ke Desa Budaya Pampang. Sebuah perkampungan Suku Dayak Kenyah yang berjarak sekitar 25 km dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Gambar diambil Rabu (16/5/2012) lalu. Tarian pertama yang ditampilkan adalah Tari Nyelama Sakai. Sembilan orang penari belia membawakan tarian ini menjadi pembuka sekaligus ucapan selamat datang untuk para pengunjung. Kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Kancet Lasan, dan Tari Enggang Terbang yang dibawakan bergantian.
Sejumlah perempuan suku Dayak Kenyah, mengenakan pakaian tradisional menarikan Tarian Enggang Terbang di sela acara musyawarah para kepala adat Dayak Kenyah di Malinau, Kalimantan Timur. Rapat membahas pelestarian budaya Kenyah terkait banyaknya anggota suku yang telah bekerja di negara lain, Asia Tenggara. Tari Enggang Terbang sendiri menceritakan tentang perpindahan masyarakat Suku Dayak dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok gadis Suku Dayak yang mengenakan hiasan berlambang Burung Enggang. Gerakan yang cantik dengan alunan musik khas Suku Dayak Kenyah mengalun dengan sangat indah. Selanjutnya, Tari Anyam Tali pun turut melengkapi pertunjukan daerah ini. Tarian yang satu ini menggambarkan suku Dayak yang terdiri dari bermacam-macam sub suku. Namun, dengan adanya perbedaan ini mereka tetap saling bersahabat satu sama lain. Di atas simpul tali, terdapat patung burung Enggang yang disimbolkan sebagai seorang pemimpin. Pada penampilan kelima, Tari Pampaga tampil memeriahkan suasana. Tarian ini melambangkan sebuah perangkap yang sengaja dibuat untuk mengusir hama. Ditarikan oleh 6 gadis muda, tarian ini dimainkan dengan menggunakan peralatan bambu.
Komang, 27 tahun, adalah perempuan yang didiagnosa menderita Skizofrenia atau gangguan jiwa berat. Dia duduk termenung di kamarnya dengan tangan dirantai di Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (4/5). Komang yang dipasung oleh keluarganya sendiri agar gampang mengawasinya. Pihak keluarga mengatakan, hal ini terpaksa dilakukan agar dia tidak kabur dan mengamuk para tetangga. Komang jarang mandi atau mengganti pakaiannya karena pergelangan tangannya dirantai sehingga sulit mengenakan pakaian. Komang dan enam saudaranya berasal dari keluarga miskin. Komang sendiri sudah bertahun-tahun dipasung. Adik lelakinya, yang juga memiliki kondisi mental yang sama, dipasung selama delapan tahun tetapi telah pulih dan dilepas pada tahun 2009. Saat ini, dia dipantau oleh Prof. Dr. dr. LK Suryani, ketua Suryani Institute for Mental Health, sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada penderita penyakit jiwa, yang menyediakan perawatan medis dan psikiatris kepada semua pasien gangguan jiwa hingga sembuh tanpa dikenakan biaya alias gratis. Namun, masih banyak warga miskin dengan gangguan jiwa yang tidak tertangani akibat tidak mau pergi ke dokter atau ke rumah sakit karena takut biaya yang mahal. Selain itu di masyarakat Bali sendiri sering kali ada stigma atau informasi yang salah tentang penyakit jiwa ini. Karena si penderita sakit jiwa suka berteriak, mengamuk, marah-marah sendiri, maka dianggap kesurupan atau kerasukan roh jahat sehingga dianggap aib bagi keluarga. Dalam beberapa kasus, orang sakit jiwa diterapi secara tradisional melalui metode supranatural dengan harapan bisa mengatasi gangguan mental tersebut. Kementerian Kesehatan menganggarkan 2,3 persen dari anggaran kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar.
Komang, 27 tahun, adalah perempuan yang didiagnosa menderita Skizofrenia atau gangguan jiwa berat. Dia duduk termenung di kamarnya dengan tangan dirantai di Buleleng, Bali, Jumat (4/5). Gangguan jiwa yang dialami Komang memaksanya menjalani tiap detik hidupnya dalam kamar berukuran 2x3 meter selama bertahun-tahun. Adanya stigma yang membentuk pola berpikir masyarakat bahwa memiliki anggota keluarga stres adalah aib memang sering dijadikan pembenaran untuk melakukan pemasungan si korban. Padahal tindakan tersebut tak sepatutnya dilakukan dan tidak dibenarkan sama sekali. Sebaliknya, kasih sayang dan kepedulian keluarga yang menyertai upaya medik mampu membantu proses penyembuhan si korban yang stres. Penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa memang beragam. Namun mengenali tanda-tandanya sejak dini adalah langkah yang lebih baik untuk menentukan terapi yang paling tepat. Terapi melalui pendekatan rohani menjadi alternatif pengobatan terhadap pasien pengidap gangguan jiwa, terutama bagi keluarga yang mengalami kesulitan biaya.
Ketut, 33 tahun, tampak memandang dengan tatapan mata kosong di kamarnya yang sempit dengan kaki kiri dirantai selama delapan tahun terakhir, Selasa (8/5) di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Ketut dipasung oleh keluarganya sendiri agar bisa mengontrol dirinya. Mereka mengatakan, Ketut telah menunjukkan gejala gangguan jiwa selama sembilan tahun, tetapi hanya membawanya ke 'Balian' yang merupakan penyembuh tradisional Bali. Kini dia berada di bawah pengawasan LSM Layanan Hidup Bahagia yang dipimpin Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKJ. LSM ini merupakan sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada penderita penyakit jiwa, dengan menyediakan perawatan medis dan psikiatris kepada semua pasien gangguan jiwa hingga sembuh tanpa dikenakan biaya alias gratis. "Menurut keterangan dokter di RS Jiwa Bangli, salah satu penyebab orang gila, beban di desa sangat berat. Ini perlu pemikiran dan introspeksi.
Sebenarnya berapa kemampuan masyarakat untuk melakukan kewajibannya sebagai krama desa supaya tidak stres dan menjadi gila,” ujar Gubernur Bali Made Pangku Pastika.
Wayan Pait, 50 tahun, terbaring lemah di tempat tidurnya dengan tangan dan kaki terikat hampir sepanjang hidupnya di Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Menurut keluarganya, Wayan menderita kelainan otot sehingga tidak bisa mengontrol gerakan tangan dan kakinya yang dapat menyakiti dirinya sendiri. Wayan kini hanya tinggal bersama orangtuanya, Ketut Tomblos dan Ketut Klenteng yang keduanya telah renta. Merekalah yang merawat dan menjaga Wayan Pait setiap harinya. Ketut Klenteng sang ibunda Wayan mengungkapkan ketika itu Wayan masih berumur 25 hari saat tiba-tiba menangis dan akhirnya tidak sadarkan diri. "Anak saya seperti orang mati selama delapan hari. Sempat sadar sebentar," ungkap Ketut Klenteng dengan mata menerawang sedih. Wayan Pait terpaksa harus diikat sejak berumur lima tahun. Sejak itulah, Ketut Klenteng dan Ketut Tomblos tak pernah membawa anaknya itu ke dokter atau ke rumah sakit karena tak punya biaya. Kini keluarga miskin ini hanya bisa berharap bantuan dari kaum dermawan untuk bisa membantu mengobati anaknya Wayan Pait. Gambar diambil Selasa (1/5).
Gede, 55 tahun, duduk dengan kaki dirantai di balai bambu di gubuk dekat hutan jauh dari keluarganya di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis (3/5). Penderita Schizophrenia itu sudah tujuh tahun dipasung keluarganya sehingga sangat jarang mandi dan berganti baju sehingga kondisinya memprihatinkan. Sekarang, dia dalam pengawasan Prof. Dr. dr. LK Suryani, Ketua Layanan Hidup Bahagia. LSM ini merupakan sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada penderita penyakit jiwa, dengan menyediakan perawatan medis dan psikiatris kepada semua pasien gangguan jiwa hingga sembuh tanpa dikenakan biaya alias gratis. Di tengah destinasi Bali sebagai tujuan wisata dunia, justru ada kondisi yang sungguh menyedihkan. Dari data hasil survei Suryani Institute for health ditemukan bahwa ada sekitar 7.000 sampai 9.000 masyarakat di Bali mengalami gangguan jiwa. Pada tahun 2008, kabupaten paling timur Bali yaitu Karangasem terdapat 896 orang yang mengalami gangguan jiwa. Dan untuk tahun ini jumlahnya sudah mencapai 1.500 orang ini sama saja dengan 3,5 persen dari seluruh warga Karangasem. "Tambahan itu kita temukan di empat kecamatan di Karangasem yaitu Manggis, Rendang, Sidemen, dan Abang," kata dokter Luh Ketut Suryani.
Ketut, 57 tahun, yang didiagnosa menderita Schizophrenia dan dipasung selama 15 tahun, duduk di gubuknya di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, Jumat (4/5). Dari data hasil survei Suryani Institute for health ditemukan bahwa ada sekitar 7.000 sampai 9.000 masyarakat di Bali mengalami gangguan jiwa. "Mereka yang bunuh diri karena gila sekitar 34,7 persen. Banyaknya halusinasi serta suara-suara aneh yang kerapkali mendorong untuk melakukan perbuatan nekat ini," jelas Suryani. Jika keluarga sudah tak sanggup untuk mengatasi maka satu-satunya jalan adalah dengan pemasungan. sebagian besar dari mereka sudah dipasung belasan bahkan puluhan tahun. Suryani menjelaskan, banyak hal yang memicu gangguan jiwa tersebut. Masyarakat yang mengalami penyakit menahun dan
telah putus asa berobat ke dokter, alternatif tak juga sembuh sehingga tak lagi memiliki biaya. Kondisi ini justru membuat prihatin negara-negara lain yang mengirimkan petisi agar badan kesehatan dunia (WHO) agar ikut memperhatikan Bali.
Sejumlah personel Paskhas TNI Angkatan Udara mengeluarkan kantong yang berisikan jenazah korban pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 milik Rusia yang jatuh di Gunung Salak. Kantong-kantong jenazah itu dibawa oleh dua heli SAR milik TNI dan Polisi Udara dan tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu (12/5) sekitar pukul 13.45 WIB. Tim evakuasi korban pesawat jatuh SSJ 100 berhasil mengumpulkan para korban dari lokasi kejadian. Sampai saat ini sudah ada 16 kantong jenazah yang terisi. "Total ada 16 kantong jenazah. Dalam waktu dekat sudah bisa ditangani," kata Panglima Kodam III Siliwangi Mayor Jenderal TNI Sonny Wijaya di Posko Embrio, Cipelang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu hari ini.
Sejumlah personel Paskhas TNI Angkatan Udara bersama tim SAR bersama-sama menggotong kantong yang berisikan jenazah korban pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 milik Rusia yang jatuh di Gunung Salak. Kantong-kantong jenazah itu dibawa oleh dua heli SAR milik TNI dan Polisi Udara dan tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu (12/5). Menurut Panglima Kodam III Siliwangi Mayor Jenderal TNI Sonny Wijaya, saat ini sudah ada tim tambahan yang tiba di lokasi jatuhnya pesawat berisi 45 orang, yang terdiri dari 8 awak warga Rusia dan 37 penumpang itu. Sonny mengatakan, sampai kemarin memang ada 12 kantong jenazah yang terisi. "Hari ini ditambah 4 kantong jenazah. Itu bukan jumlah jasad, tapi total kantong jenazah," kata Sonny yang mengatakan bahwa korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
-
ESDM Tolak Penambahan Kuota BBM di Kalimantan
Selasa, 22 May 2012 17:26 -
Uje Diundang Khusus Doakan Jenazah Korban Sukhoi
Selasa, 22 May 2012 17:24 -
PLN Janji Alirkan Listrik ke Daerah Perbatasan dan Terpencil
Selasa, 22 May 2012 17:22 -
Dari 50 Perusahaan Minyak, Hanya 5 yang Capai Target Produksi
Selasa, 22 May 2012 17:08 -
Produksi Minyak RI Terus Menurun
Selasa, 22 May 2012 16:39 -
7 Bulan Tak Dibayar, Subkontraktor Hentikan Pembangunan Stadion Utama PON
Selasa, 22 May 2012 16:36
-
Munich Singkirkan Real 3-1 Lewat Adu Penalti
Kamis, 26 April 2012 09:08 -
Penderita Diabetes Boleh Minum Kopi dan Teh, Asal..
Selasa, 08 May 2012 21:58 -
Susana, Finalis Putri Indonesia Juga Jadi Korban Sukhoi
Kamis, 10 May 2012 10:52 -
Sukhoi SuperJet100 Loss Contact di Atas Gunung Salak
Rabu, 09 May 2012 18:29 -
Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal Dunia
Senin, 21 May 2012 09:59 -
Ada Gambar Nabi Muhammad di Buku Cerita Bantuan Kemenag
Selasa, 22 May 2012 13:39
-
Ini Daftar Nama Penumpang Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100
Kamis, 10 May 2012 11:35 -
100 Pilot India Bolos Kerja
Selasa, 08 May 2012 20:12 -
China Usir Reporter Al Jazeera
Selasa, 08 May 2012 13:36 -
Kapal-kapal Perang AS Akan Dikerahkan ke Singapura 2013
Jumat, 11 May 2012 11:58 -
Terlalu Sibuk, Putin Enggan Hadiri KTT G8
Jumat, 11 May 2012 16:01 -
Aduh... Kepala Bocah SD Terjepit Celah Sempit Antara Dinding dan Tiang
Senin, 14 May 2012 21:57 -
Liput Penggusuran, Polisi Pukuli Jurnalis
Selasa, 08 May 2012 17:30 -
Hamas Tak Mau Terlibat dalam Perang Iran dan Israel
Jumat, 11 May 2012 09:08 -
Iran Peringatkan Google
Sabtu, 19 May 2012 12:59 -
Rusia Pandang Indonesia sebagai Mitra Penting
Selasa, 15 May 2012 13:04

