Home Wawancara Titi dan Ovy: Walaupun Telah Berpisah,Rasa Rindu Itu Masih Ada
Senin, 26 Desember 2011 07:30

Titi dan Ovy: Walaupun Telah Berpisah,Rasa Rindu Itu Masih Ada

Written by  Chairul Abshar
Rate this item
(0 votes)

JAKARTA ― Hari Senin, 12 Desember 2011, sidang perceraian Titi DJ dan Noviar Rachmansyah atau yang lebih dikenal dengan Ovy, personel grup band Rif, telah menemui titik akhir. Palu telah diketuk, dan hakim pun menyatakan pasangan yang menikah pada 2007 silam itu resmi bercerai.

Proses perceraian antara kedua insan ini pun terbilang sangat sederhana dan sangat singkat. Ya, sidang cerai keduanya hanya berlangsung 2 kali. Sejak memutuskan untuk berpisah pada Agustus 2011 lalu, Titi DJ dan Ovy ternyata sudah mempertimbangkan dengan matang soal rumah tangga mereka. Jalur perpisahan pun ditempuh keduanya sebelum memasuki babak persidangan, guna bisa membiasakan diri terlebih dahulu, sebelum mereka benar-benar bercerai.

Tak ada yang harus diributkan, tak ada yang harus dipermasalahkan, dan tak ada perang kata-kata yang biasanya terjadi pada pasangan yang bercerai. Titi dan Ovy sangat mencintai perdamaian, termasuk dalam sebuah perceraian, perdamaian itu selalu ada di antara mereka.

Nonblok.com mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Titi dan Ovy, bercerita soal perceraian mereka, yang mungkin sangat tidak seru, tidak sensasional, dan tidak menyajikan sesuatu yang sangat disukai banyak orang. "Kita kan ketemunya baik-baik, berpisahnya juga baik-baik dong," Ovy Rif - Titi DJ di Telaga Sampireun, Bintaro (25/12)

PERCERAIAN YANG INDAH DARI TITI DJ DAN OVY

Cerita sedikit tentang sidang perceraian kalian yang sudah berlangsung?

Titi: Iya, saya dan Ovy sekarang sudah resmi bercerai. Sebenernya gak bisa banyak cerita karena dua kali sidang kemarin kita sama-sama gak bisa hadir karena saya dari luar kota, dan Ovy juga baru kembali dari luar kota, dan kebetulan kurang sehat. Jadi ya memang nggak bisa banyak yang diceritakan, karena memang kita tidak hadir di sidang. Memang di sidang pertama minggu lalu, pengacara saya dan pengacara Ovy melaporkan bahwa sidang pertama ditunda sampai satu minggu yaitu kemarin, hari Senin. Saat itu kebetulan saya masih di Pontianak, Ovy juga berhalangan. Ya udah jadinya cuma dilaporkan bahwa putusan cerai sudah keluar, udah ketok palu. Ya udah demikian kisahnya.

Cukup jauh ya jaraknya sejak berpisah di bulan Agustus?

Titi: Dari mulai awal kita pisah, bulan Agustus, memang tidak banyak tahu karena memang setelah itu kita tidak memberikan pengumuman, hehehe. Dari jarak waktu itu kita tetep komunikasi, kita masih menanyakan kabar masing-masing. Ovy juga beberapa kali ke rumah. Saya juga sempet ke rumah Ovy, ketemu Mamanya Ovy, ya ngobrol-ngobrol seperti biasa. Dan karena memang perpisahan ini mereka juga sudah tahu, bahwa perpisahan ini tidak dilalui dengan berantem-berantem, jadi ya damai-damai saja.

Ovy: Jadi ya memang terutama keluarga dan anak-anak kalau Titi ke rumah, nggak merasa canggung karena memang mereka tahu kalau kita nggak ada berantem-berantem lah.

Kalau boleh tahu, selama jarak waktu yang panjang, apakah memang ingin mencoba memperbaiki lagi?

Titi: Setelah bulan puasa, praktis kita kan sudah pisah rumah ya, dan setelah Lebaran kita sempat berbicara, tapi bicara lebih ke kapan waktu untuk sidang, kita juga sempat berdiskusi untuk gak terlalu buru-buru. Tapi yang pasti Ovy sibuk dengan aktifitasnya, jadwal Rif dan lain-lainnya. Sementara saya juga sibuk dengan show-show, jadi sempet terlupakan bahwa ada sidang yang harus kita hadapi.

Sidangnya cukup singkat, hanya 2 kali. Memang sudah kesepakatan?

Titi: Kita sendiri juga surprise mungkin, karena kita kan juga sudah pisah rumah lebih dari tiga bulan, dan kita juga tidak ada masalah dengan harta gono gini.

Ovy: Justru sebetulnya aneh kalau ada proses mediasi untuk merujukkan, karena itu kan justru kalau mediasi itu kalau ada perselisihan, kalau ini kan gak ada yang perlu dipermasalahkan, terus apa yang mesti didamaikan? Jadi memang kita mengajukan dari awal juga sudah ada kesepakatan dan sudah dipikirkan. Mau dirujukkan juga, kita nggak perlu itu. Kita cuma statusnya aja yang nggak bisa untuk hidup serumah. Ya itu yang kita ambil jalannya seperti ini, bukan karena memang ada masalah pertentangan.

Titi: Ya mungkin dilihat dari sudah pisah rumah tiga bulan, tidak ada masalah tentang harta gono gini, tidak ada perebutan soal asuh anak, pokoknya kita nggak ada masalah yang biasanya terjadi dalam sebuah perceraian.

Bagaimana dengan anak-anak? Mereka sudah tahu kalian resmi bercerai?

Titi: Kalau saya terus terang belum memanggil mereka untuk duduk bersama, karena yang satu mau menghadapi ujian, yang kembar lagi banyak ekstrakurikuler. Ya kan kita kasihan juga ngelihat anak-anak pulang sekolah terus kecapean, terus kita ngomong sesuatu yang agak serius. Jadi saya menunggu saat yang tepat.

Ada pertanyaan dari anak-anak ketika mungkin mereka lihat berita?

Titi: Anak saya nggak baca tabloid, nggak nonton infotainment, jadi nggak ada pertanyaan.

Ovy: Anak-anak saya mungkin sampai sekarang belum tahu, kecuali kalau Axel sudah tahu. Karena kebetulan pas aku dapat laporan dari pengacara, dia ada di sebelah saya, jadi langsung tahu. Kita sih bersyukur kita bisa membicarakan ini baik-baik. Dengan ini kita bisa kasih lihat, dengan sebuah perceraian kita bisa lalui dengan tanpa perang kata-kata. Apalagi kita kan orang-orang yang disorot, jadi pasti akan terekspose. Sorotan ke kita itu tidak terlalu banyak karena kita tidak berantem, nggak perang kata-kata lewat media, kita tidak menjelekkan satu sama lain, yang seperti biasanya ditonton oleh penonton televisi, yang biasa dilihat kalau perceraian diikuti dengan gontok-gontokan, saling menjelekkan satu sama lain. Nah, kita juga tidak perlu ada yang dijelekkan, dipertentangkan. Yah kita mau kasih contoh aja, perceraian itu bisa juga dengan cara baik-baik. Kita kan ketemunya baik-baik, berpisahnya juga baik-baik dong.

Setelah ada putusan dari Pengadilan Agama, merasa lega kah? Artinya ada sesuatu yang sudah terlewati?

Titi: Yah pasti ada satu rasa lega, tapi terus terang, sedih pasti ada, tapi kan kita harus dewasa menyikapi ini semua. Jadi jangan sampai kesedihan itu berlarut-larut.

Ovy: Sedih sih pasti ada. Kalau kita dulu bercita-cita untuk hidup bersama selamanya, ini adalah kesepakatan yang kita sudah putuskan, dan sudah sekian bulan kita sudah berpisah. Tapi saya harus paham saat ini Titi bukan istri saya lagi, dan itu sedih juga. Susah dihilangkan, tapi kita juga harus bisa menyikapi itu dengan baik.

Kalau boleh tau masih ada rasa rindu nggak antara kalian?

Titi: Hahahahaha. Waduh gimana ya, kadang-kadang pasti ada lah, rasa rindu itu masih tetep ada. Tapi kan gini loh, ibaratnya kita sudah latihan selama tiga bulan, dan itu sudah terlatih. Tapi kalau misalkan ada rasa rindu ya tetap, komunikasi, kecuali nanti kalau Ovy udah punya pengganti, saya harus bersikap menahan diri.

Apa yang paling dirindukan Ovy dari Titi?

Ovy: Apa ya? Banyak sih, pastinya sosok seorang istri di rumah. Yang biasanya kalo bangun pagi, ada yang nanya mau sarapan apa. Udah gitu kalau misalkan nganterin anak ke sekolah, terus pas pulang bengong-bengong aja, terus buka lemari nggak ada makanan. Itu hal-hal yang kecil tapi juga cukup membuat teringat. Terus kalau malam hari apalagi, biasanya ada teman ngobrol pas pulang dari kita kerja, itu juga salah satunya. Terus terang, ketika ada hal yang terjadi, yang spesial, tetep Titi orang pertama yang saya ceritain, belum bisa diganti ke siapapun.

Kalau Titi bagaimana?

Titi: Sesuatu yang tadinya selalu kita lakukan sama-sama. Misalnya gini, ada sebuah serial tv, di mana saya, Ovy dan anak-anak selalu nonton bareng. Terus kayak download-download, jadi agak berkurang ya sekarang, karena yang ahlinya cuma Ovy. Saya juga kangen kalau bikin lagu, musik, kalau ada ide atau inspirasi, saya langsung lari ke Ovy. Atau kalau saya punya lagu, saya selalu minta bantuan Ovy.

Kenangan kalian akan selalu tersimpan dengan baik?

Titi: Oh iya lah, pasti akan tersimpan baik untuk sebuah kenangan yang indah dan tetap terindah. Ya memang harusnya begitu kan, tidak ada yang harus dihapuskan. Banyak deh pokoknya kenangan kita. Saya kalau ada yang mau dibahas, yang pertama di bbm pasti Ovy, terus kita bahas bareng-bareng.

Batasan antara kalian semakin banyak?

Ovy: Ya, sebetulnya itu latihan tiga bulan yang kita jalanin ya buat latihan juga. Tapi ada saat-saat yang tetep kita komunikasikan bersama, dan kita nggak harus putus komunikasi. Mungkin batasannya kalau saya ke rumah, saya nggak mungkin masuk ke kamar Titi, karena udah bukan muhrimnya lagi, jadi ya saya tunggu di bawah, hahaha.

Apakah ada bagian-bagian yang musti dikurangi intensitasnya?

Ovy: Sejauh ini sih begitu dulu, yah kita lihat aja nanti, tapi yang penting gak usah terlalu gimana-gimana, jadi kita jalanin aja. Mungkin ada yang bisa disampaikan mbak, mengingat mungkin banyak yang tidak tahu mengenai perceraian kalian?

Titi: Ya, dengan ini saya dan Ovy ingin memberitahu bahwa walaupun kita sudah resmi bercerai, kita berdua tetap sepekat untuk bersilaturahmi. Mungkin buat pemirsa ini bukan hal yang menarik karena berpisahnya adem ayem, nggak pake ribut-ribut, tapi kita berdua membuktikan bahwa seperti inilah adanya.

Ovy: Dan ini memang adalah keputusan yang sudah kita sepakati sebelumnya, memang tidak ada konflik, pertikaian atau apa pun itu. Kita ke depannya juga akan terus bersilaturahmi, komunikasi dengan baik dan juga dengan anak-anak juga. Semoga ini memang benar-benar hasil yang terbaik untuk ke depannya baik-baik, dan untuk anak-anak juga.

Titi: Dan kita juga tahu di luar sana orang banyak berasumsi bahwa kita mencari sensasi lewat perceraian ini, tapi dengan ini kita buktikan bahwa tidak mungkin lah kita mencari sensasi dengan cara seperti itu. Lagian bukan sesuatu sensasi yang membanggakan juga. Kalau mau mencari sensasi lewat prestasi itu boleh, tapi kalau mencari sensasi seperti ini kan bukan membanggakan, karena ini kan pribadi.

Leave a comment

(*)wajib disi.


Kirim Berita, Artikel dan Opini