JAKARTA — Boleh jadi belum banyak orang mengenal Jay Aryaputra Singgih. Tapi semangatnya untuk mandiri membuat putra dari Jaka A. Singgih, CEO Bumi Laut Group ini patut diacungi jempol. Pria yang baru berusia 24 tahun itu belum bergabung ke dalam bisnis keluarga. Dia justru sedang bekerja di perusahaan lain, yaitu Ernst & Young (EY), sebagai anggota Tim Mergers & Acquisitions Advisory, Transaction Advisory Services Division, bidang Corporate Finance.
Jay Singgih: Perusahaan Keluarga Harus Sustainable
Written by Ibrahim AjieJay yang aktif di kepengurusan Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (BPD HIPMI Jaya) menyatakan, keinginannya bekerja di EY bukan semata untuk mencari pengalaman sebelum bergabung ke dalam bisnis keluarga. "Saya tahu memang ada konsep atau proses bagi anggota keluarga untuk belajar di luar seperti itu sebelum masuk ke perusahaan keluarga. Namun, tergantung individunya dan situasi masing-masing. Bagi saya, bekerja di luar perusahaan keluarga merupakan suatu kepuasan sendiri dimana saya dapat menambah wawasan, networking serta berprestasi," ujar Jay yang aktif sebagai Ketua Departemen Hubungan Internasional Kawasan Eropa dan Amerika BPD HIPMI Jaya, di bawah Ketua Bidang IX Hubungan Internasional, Kerjasama Antar-Lembaga & GCG (IKG).
Berikut petikan perbincangan Nonblok.Com dengan Jay Singgih di Jakarta, Sabtu (11/2):
Mengapa Anda tertarik masuk HIPMI?
Saya memang tertarik pada dunia usaha, antara lain karena latar belakang saya adalah dari keluarga pengusaha, dan saya juga mengambil S1 di bidang ekonomi (meraih Degree Bachelor of Arts in Economics dari University of Durham, Inggris, Red.). Saya kuliah empat tahun, termasuk magang satu tahun (antara lain di Simpson Spence & Young Shipbrokers di Singapura, Louis Dreyfus Highbridge Energy di Switzerland, dll. Red.). Dan, HIPMI buat saya adalah wadah sekaligus kawah candradimuka pengusaha muda Indonesia.
Di HIPMI Jaya, saya menjadi anggota pada tahun 2011. Memang, sejak masa sekolah, saya sudah senang berorganisasi. Saya merasa beruntung menjadi bagian dari HIPMI. Banyak senior saya juga memberikan mentorship dan kami saling berbagi informasi antara anggota, karena hal itu penting sebagai forum komunikasi. Sebab, apa gunanya pengetahuan kalau tidak di-share dengan sesama rekan, dan tentunya kami juga saling terbuka dan mendukung.
Kenapa memilih kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan lain, bukan ikut bisnis keluarga?
Bisnis keluarga adalah Bumi Laut Group (Kelompok bisnis yang bergerak di bidang Pelayaran, Logistik, Trading dan Investasi-Red.) yang dipimpin oleh ayah saya, Pak Jaka Singgih sebagai CEO, dan kakek saya, Pak Arya Johan Singgih sebagai Chairman.
Kalau boleh saya cerita sedikit, tidak lama setelah saya lulus S1 di Inggris, saya diterima bekerja di Ernst & Young di Indonesia. Bersamaan waktunya, saya diterima kuliah S2 di Inggris, dan ini merupakan suatu pilihan yang sulit bagi saya pada waktu itu.
Dari Inggris, saya Skype dengan ayah, yang juga teman dan juga mentor saya. Kami berdiskusi mengenai persimpangan jalan ini, saya mau pilih jalan mana, melanjutkan kuliah S2 atau bekerja. Ayah saya bilang, lebih baik setelah kuliah cari pengalaman kerja dulu sebelum mengambil S2. Beda kalau ingin berkarir di bidang akademik, yang harus selesai S1-S2-S3, mungkin sekaligus. Saya setuju dengan beliau dan kalau saya pikir-pikir sekarang, maka ini adalah pilihan yang terbaik, dan saya juga senang sekali dapat kembali ke tanah air, setelah cukup lama di luar negeri.
Saya selalu berkeinginan untuk mencari pengalaman serta menambah wawasan dengan bekerja di perusahaan lain dengan memulai dari bawah sebelum nantinya bergabung dengan perusahaan keluarga. Pada bulan Februari 2012 ini, saya sudah 1,5 tahun bekerja di Ernst & Young, di bidang Corporate Finance, sebagai anggota Tim Mergers & Acquisitions Advisory, melayani Divisi Transactions Advisory Services.
Apa itu bukan sekadar cari pengalaman sebelum join dengan bisnis keluarga?
Tidak, ini bukan sekadar pengalaman sebelum bergabung ke dalam bisnis keluarga. Saya tahu memang ada konsep atau proses seperti itu, tapi saya rasa itu tidak harus selalu begitu.
Tidak ada salahnya juga seorang fresh graduate langsung bergabung dengan family business, asalkan bisa bekerja secara profesional, tentu tidak ada masalah. Jadi bukan harus pengalaman dulu atau enggak, itu bukan mindset-nya, tergantung individu dan situasi masing-masing. Saya percaya perusahaan keluarga itu hanya bisa sustainable jika semua anggota keluarga di perusahaan itu bekerja secara professional, serta mempunyai visi, misi dan nilai yang sama. Kalau enggak, tidak akan berjalan dengan baik dan tentunya tidak akan bisa sustainable.
Jadi saya di Ernst & Young bukan sekadar batu loncatan sebelum bergabung di perusahaan keluarga. Saya juga masih kepingin ambil S2. Ini kan juga sangat baik untuk pengembangan intelektual, apalagi setelah mendapat pengalaman kerja, mengambil S2 dapat memberikan saya wawasan yang lebih luas lagi, terutama dalam dunia bisnis, kepemimpinan dan kewirausahaan.
Nah, bagaimana Anda menghadapi tantangan itu?
Saya merasa beruntung bahwa di Ernst & Young, selain bekerja kami juga dibina oleh atasan, dan perusahaan tersebut memiliki banyak training program, meskipun untuk yang berlatar belakang nonfinance atau nonbisnis dan nonekonomi, jadi tidak masalah, semua mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan berkembang.
Selama ada kemauan, di situ bisa dibina. Mereka sangat konsen tentang integritas, maka environment-nya sangat disiplin dan kondusif, semua senior selalu ada waktu untuk membina para juniornya. Kompetisi juga berlangsung secara sehat dan konstruktif. Kami dalam menghadapi tantangan, selalu saling mendukung dan bekerja-sama dengan baik, yang penting hasilnya baik untuk klien dan perusahaan.
Selain di HIPMI Anda juga giat berkiprah di British Chamber of Commerce in Indonesia. Bisa diceritakan?
Saya sejak Juni 2011 dipercaya menjadi Ketua Bidang Pengusaha Muda (Chairman of Young Professionals Group) di British Chamber of Commerce in Indonesia (Kamar Dagang Britania di Indonesia atau BritCham). Sewaktu saya kuliah di Inggris, antara lain saya juga aktif sebagai Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) selama tiga tahun.
Setelah balik ke Indonesia, saya mencari suatu wadah untuk menampung aspirasi dalam meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Inggris. Lembaga ini sudah established puluhan tahun di Indonesia dan diantara lain, bermitra dengan KADIN Indonesia, HIPMI, DPR RI, British Embassy Jakarta, UKTI (United Kingdom Trade & Invesment) atau BKPM-nya Inggris, Kementerian Luar Negeri, berbagai kementerian dan lembaga negara serta private sectors.
Di mata mereka kelemahan kita seperti apa?
Malah sebaliknya. Menurut Dubes Inggris Mark Canning, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan, Indonesia prioritas nomor dua setelah India sebagai negara tujuan investasi Inggris. Mereka juga akan slim-down atau merampingkan misi diplomatiknya di tempat lain seperti Eropa, dan akan memfokuskan diplomatic mission-nya ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, serta India yang memang sudah punya sejarah panjang sebagai negara Commonwealth. Inggris juga pada 2010 sempat mencatatkan diri sebagai investor kedua terbesar di Indonesia.
Lalu mereka lebih senang masuk ke sektor apa saja?
Kalau menurut UKTI, ada beberapa sektor prioritas di Indonesia, terutama di bidang infrastruktur, baru kemudian pendidikan, renewable energy atau energi baru terbarukan, oil & gas, farmasi, banking, insurance dan lain lain. Juga di sektor pertambangan, karena Indonesia dipandang sebagai natural resources-based country, dan perekonomian Indonesia dianggap berkembang dengan stabil dan baik selama ini, serta Indonesia menjanjikan potensi yang cukup besar untuk berinvestasi.
Ngomong-ngomong apa ambisi Anda di Ernst & Young?
Saya di situ sekarang ini sedang merintis, saya belajar dan bekerja sebaik mungkin. Dan, yang saya sangat senang di situ saya diekspos ke beberapa bidang dan sektor usaha. Saya sebagai Associate merasa sangat beruntung bisa diekspos di dunia perbankan, sektor infrastruktur, pharmaceutical, insurance, consumer goods, energi dan lain-lain.
Kalau nanti suatu ketika orang tua meminta Anda untuk menekuni bisnis keluarga, gimana?
Nanti Anda saya kasih nomor HP ayah saya supaya Anda bisa telepon beliau langsung, hahaha ... Tapi yang bisa saya bilang, kalau pun saya masuk ke Bumi Laut Group, saya yakin pada awalnya saya akan lebih banyak belajar dibanding berkontribusi.
Karena sesuatu yang baru buat saya kan butuh learning process lagi, namun saya akan berdedikasi dengan sebaik mungkin serta bekerja dengan team-work yang baik. Saya akan coba mengkontribusikan pengalaman saya dari EY dan pengalaman dalam berorganisasi selama ini.
Menurut Anda, bisnis seperti yang dijalani Bumi Laut ke depan akan seperti apa?
Untuk industri pelayaran, apa lagi di negara kepulauan seperti Indonesia yang juga negara archipelago terluas, sudah pasti membutuhkan connectivity untuk menggerakkan perekonomian negara.
Selain itu, sektor logistik dan perdagangan juga sangat menjanjikan, karena Indonesia akan mengembangkan proyek-proyek infrastruktur dan begitu banyaknya produk atau komoditas Indonesia yang dapat diperdagangkan.
Jadi saya yakin, kalau dikelola dengan baik dan profesional, maka peluang bisnis akan bertambah dan Bumi Laut Group dapat lebih tumbuh dan berkembang, serta memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.
3 comments
-
Comment Link
Rabu, 22 Februari 2012 22:13
posted by
Ananda Setiyo Ivannanto
Mantab bro! You should get more interviews hehe
-
Comment Link
Senin, 20 Februari 2012 11:45
posted by JK
Excellent report Jay. Keep it up. JK
-
Comment Link
Minggu, 19 Februari 2012 19:38
posted by DDjani
Well put.
Leave a comment
(*)wajib disi.
-
Kapolda: Saya Tetap Tak Izinkan Konser Lady Gaga
Rabu, 23 May 2012 11:34 -
Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Dicap PKI
Rabu, 23 May 2012 11:31 -
Menhub Pimpin Upacara Serah Terima Jenazah Korban Sukhoi
Rabu, 23 May 2012 11:29 -
Hore! Pertamax Turun jadi Rp 9.700 per Liter
Rabu, 23 May 2012 11:27 -
Ruhut Sitompul: Siap Satu Lawan Satu Hadapi FPI
Rabu, 23 May 2012 11:25 -
Pemain Inter Tiba di Bandara Soetta Jakarta
Rabu, 23 May 2012 11:21
-
Munich Singkirkan Real 3-1 Lewat Adu Penalti
Kamis, 26 April 2012 09:08 -
Penderita Diabetes Boleh Minum Kopi dan Teh, Asal..
Selasa, 08 May 2012 21:58 -
Susana, Finalis Putri Indonesia Juga Jadi Korban Sukhoi
Kamis, 10 May 2012 10:52 -
Sukhoi SuperJet100 Loss Contact di Atas Gunung Salak
Rabu, 09 May 2012 18:29 -
Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal Dunia
Senin, 21 May 2012 09:59 -
Ada Gambar Nabi Muhammad di Buku Cerita Bantuan Kemenag
Selasa, 22 May 2012 13:39
-
Ini Daftar Nama Penumpang Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100
Kamis, 10 May 2012 11:35 -
100 Pilot India Bolos Kerja
Selasa, 08 May 2012 20:12 -
Kapal-kapal Perang AS Akan Dikerahkan ke Singapura 2013
Jumat, 11 May 2012 11:58 -
China Usir Reporter Al Jazeera
Selasa, 08 May 2012 13:36 -
Terlalu Sibuk, Putin Enggan Hadiri KTT G8
Jumat, 11 May 2012 16:01 -
Aduh... Kepala Bocah SD Terjepit Celah Sempit Antara Dinding dan Tiang
Senin, 14 May 2012 21:57 -
Rusia Pandang Indonesia sebagai Mitra Penting
Selasa, 15 May 2012 13:04 -
Liput Penggusuran, Polisi Pukuli Jurnalis
Selasa, 08 May 2012 17:30 -
Iran Peringatkan Google
Sabtu, 19 May 2012 12:59 -
Hamas Tak Mau Terlibat dalam Perang Iran dan Israel
Jumat, 11 May 2012 09:08

